Senin, 16 Januari 2017

VIDEO UJIAN UAS AKHLAK TASAWUF

NAMA : MUHAMMAD SYAUKANI NASUTION
NIM     : 71153014
MATKUL : AKHLAK TASAWUF
https://www.youtube.com/watch?v=zeIFhIQs0Zo

Jumat, 06 Januari 2017

BIOGRAFI AS-SUHRAWARDI

BIOGRAFI AS-SUHRAWARDI
As-Suhrawardi, atau yang nama aslinya beliau ialah Abuh Futuh Yahya bin Habsyi bin Amrak. Beliau dilahirkan di daerah Suhrawandi, Zanda, di Persia Utara pada tahun 549 H / 1129 M. Suhrawardi lahir di lingkungan keluarga yang taat beribadah , seperti layaknya masa kecil para sufi / ulama lainnya, sejak diusia yang belia beliau telah mempelajari dasar-dasar agama dilingkungan keluarganya. Beliau mempelajari dasar-dasar ilmu agama seperti: Al-qur’an, Fiqih. Beliau juga memiliki sejumlah gelar yaitu: Syeikh Al-Isyraq, al-Hakim; asy-Syahid; The Martyr, dan al-Maqtul. Akan tetapi beliau lebih dikenal Al-maqtul.
Gelar beliau tersebut disebutkan agar membedakan dari dua nama sufi yang serupa. Suhrawardi; pertama, ‘Abd al-Qohir Abu Najib as-Suhrawardi (w. 563 H./ 1168 M) ia adalah murid dari Ahmad Ghazali (adik imam Ghazali).  merupakan pemuka mistisisme yang menulis kitab ‘Adab al-Muridin (moralitas santri); kedua, adalah Abu Hafs ‘Umar Shihab ad-Din as-Suhrawardi al-Baghdadi (1145-1234). Dia adalah keponakan dan sekaligus murid dari Abu Najib Suhrawardi. Dia adalah pengarang kitrab ‘Awarif al-Ma’arif.
Pada masa mudanya, beliau telah berkelana keberbagai daerah, seperti: mengunjungi beberapa tempat yang bertujuan untuk mencari ilmu pengetahuan agama serta mencari pembimbing dalam rangka memperluas wawasan ilmu agama beliau. Beliau berkelana keberbagai daerah seperti: Syria, Anatolia, Persia, dan Aleppo. Menurut saya, kebiasaan perjalanan jauh (musafir) telah menjadi kebiasaan orang-orang terdahulu terlebih lagi mereka yang para cendekiawan muslim seperti As-Suhrawardi ini.
Sebenarnya, wilayah yang pertama kali dikunjungi oleh beliau ialah wilayah dibagian Maragha, sebuah kota kecil yang terletak di Azerbaijan. Disini beliau belajar beberapa cabang ilmu agama, seperti: ilmu hukum, falsafah sampai teologi. Beliau berguru dengan Majd Ad-din Al-jili tentang ilmu teologi. As-Suhrawardi memang dikenal begitu giat mencari ilmu agama dengan mengunjungi berbagai daerah dan memiliki beberapa guru yang telah mendidik beliau dengan baik.
Setelah belajar di Maragha, beliau melanjutkan perjalanan ke daerah Ishafan, didaerah Iran Tengah. Disini pula beliau belajar ilmu agama yang lainnya yang diasuh oleh Zhahir Ad-din Al-Qari yaitu belajar tentang ilmu logika. Singkat cerita, As-Suhrawardi melanjutkan perjalanan dari Iran Tengah menuju Anatolia Tenggara dan pada saat itu beliau disambut oleh pangeran Bani Saljuk. Setelah mendapatkan ilmu formalnya, beliau langsung menuju kedaerah selanjutnya yaitu ke daerah Persia. Persia begitu dikenal dengan tempat para gerakan sufi dan tokoh –tokoh sufi. Di Persia beliau tertarik belajar ilmu mitisisme dan doktrin tasawuf. Dengan demikian, beliau pun senantiasa menerapkan ilmu yang telah ia peroleh dikehidupan sehari-hari.
Pada akhirnya, beliau mengakhiri perjalanannya ke daerah Syria. Dari Damaskus ia kemudian menuju Aleppo. Disinilah beliau pada akhirnya sampai menemukan sejumlah ilmu yang selama ini telah ia cari dari berbagai daerah yang ia telah jelajahi. Tampak begitu jelas ketekunan beliau dalam mencari ilmu agama sampai mengunjungi banyak tempat yang jauh dari tempat beliau lahir.
Menurut pengamat sufi Mehdi Amin Razali, Suhrawrdi hidup di suatu zaman ketika muncul kebutuhan untuk menyatukan kembali ilmu pengetahuan Islam dengan memadukan berbagai mazhab. Ditengah perdebatan intelektual itulah muncul pemikiran Suhrawrdi tentang Isyraq, yang antara lain meyakini bahwa wacana filosofis merupakan bagian dari perjalanan spritual seseorang.
Suhrawardi juga termasuk sufi besar yang produktif membukukan pikiran-pikirannya. Karya-karyanya yang dianggap monumental, antara lain, Hikmah al-Isyraq . Al-Muqawwamat dan Al-Mutaribat, salah satu kitab yang banyak diperbincangkan ialah
Hikamh al-Isyraq . Memuat berbagai pandangannya perihal filsafat Isyraq atau Iluminatif. Karya-karyanya yang lain, rata-rata dalam sebuah kitab yang tipis, Hikayat An-Nur, Alwah wa Imadiyah. Partaw Nama, Fil I’tikad al-Hukama, Al-Lahamat, Bustan al-Qulub – sebagian besar di tulis dalam bahasa arab. Sementara karya-karyanya dalam bahasa Persia banyak dipuji sebagai karya sastra yang indah. Karya yang lain, diantaranya, Aqil Surkh, Awazi Par-I Jabarail, Al-Qissah Al-Ghurbah al-Gharbiyah, Lugati Muran, Risalah fil Hallah al-Tufuliyyah, Ruzi Ba Jamaah Sufiyan, Safir Simurg
dan Risalah fi Mikra.
Banyak pandangan As-Suhrawardi yang di ikuti para sufi, misalnya ucapannya yang terkenal, “Semua yang menyenangkan anda, seperti hak milik, perabotan dan kenikmtan duniawi, dan hal-hal yang serupa itu, lemaprkanlah. Jika resep ini anda ikuti, penglihatan anda akan tercerahkan.” Pandangan lain yang juga terkenal, “Ketika mata batin terbuka, mata lahir harus di tutup, bibir harus di kunci, dan lima indra lahir harus dibungkam. Indra batin hendaknya mulai berfungsi, sehingga jika ia mencapai sesuatu, melakukakannya dengan jasad batin, jika mendengar, dia mendengar dengan telinga batin.
Salah satu peristiwa yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan Suhrawardi ialah saat kematiannya. Ia meninggal di tiang gantungan dalam sebuah upacara pengadilan yang digelar oleh Sultan Salahuddin Al-Ayyubi, dari dinasti Bani Saljuk – gara-gara ajarannya dianggap sesat.Di tengah beliau sebagai seorang ulama tasawuf dan cendikiawan, pendapat-pendapatnya memang sering memancing kontroversi. Seperti pandangan-pandangan Al-Hallaj maupun Junaid Al-Baghdadi, pendapat Suhrawardi sering dianggap menyimpang sehingga memancing konflik yang berkepanjangan (Syafiah Yanti,
Sebelum di adili, ia dipanggil oleh pangeran Zahir bin Salahuddin Al-Ayyubi untuk mempertanggung jawabkan ajarannya dalam forum debat terbuka yang dihadiri Teolog dan Fukaha. Dalam debat itu, ia berhasil mempertahankan argumentasinya, sehingga pangeran Zahir pun memaafkannya, bahkan belakangan bersahabat dengannya, tapi akibatnya hal itu memancing rasa iri dan dengki.
Tapi, justru karena hukuman itu nama Suhrawardi semakin melejit, masyarakat menggelarinya dengan sebutan Al-Maqtul (tokoh yang terbunuh). Ia memang telah dibunuh, jasadnya telah dibuang, tapi pikiran-pikirannya yang cemerlang tetap hidup hingga kini, bahkan sepanjang zaman. Dan Insha Allah beliau termasuk digolongan orang-orang yang beriman karena semasa hidup beliau sebelum wafat beilau senantiasa taat kepada ajaran agama dan giat menuntut ilmu hingga jauh-jauh kedaerah yang belum pernah beliau kunjungi sebelumnya.

Adapun dari kisah / biografi beliau ini kita dapat mengambil hikmah dan teladan yang dapat dicontoh perjuangan sufi ini ketika menuntut ilmu yang dilakukannya begitu giat, serta jangan mudah menyerah dari segala sesuatu yang menghadang dan bahkan terkadang nyawa pun bisa jadi taruhannya. Kita bisa melihat akhirnya seorang sufi pun meskipun ia sekalipun membawakan atau menuntut ilmu yang Insha Allah benar, tetap saja ada cobaan yang dihadapkan sehingga nyawa sekalipun bisa jadi taruhanya. Mungkin dari kisah terbunuhnya beliau inilah karena dipancung, maka ia diberi gelar seperti yang telah saya ketik diatas, yaitu: Al – Maqtul ( tokoh yang terbunuh ). Terbunuh dalam motif kisah ini karena ada unsure politik didalamnya sehingga hal ini dapat terjadi. Sehingga  di tiang gantungan dalam sebuah upacara pengadilan yang digelar oleh Sultan Salahuddin Al-Ayyubi, dari dinasti Bani Saljuk – gara-gara ajarannya dianggap sesat. Disitulah jalan takdir beliau ketika menemukan ajalnya dan pada akhirnya beliau meninggal karena dipancung.

Integrasi Dalam Ranah Aksiologi

Istilah aksiologi berasal dari bahasa Yunani, axios yang berarti nilai, dan logos yang berarti teori. Aksiologi merupakan teori nilai, investigasi terhadap asal, kriteria, dan status metafisik dan nilai tersebut. Menurut Bunnin dan Yu, aksiologi adalah studi umum tentang niali dan penilaian, termasuk makna, karateristik, klasifikasi nilai, serta dasar dan karakter pertimbangan nilai. Makadari itu akiologi disebut dengan teori nilai. Aksiologi juga dimaknai sebagai studi tentang manfaat akhir dari segala sesuatu. Suriasumantri menyimpulkan bahwa aksiologi sebagai bagian dari kajian filsafat ilmu tentang kegunaan dan penggunaan ilmu dengan kaedah moral dan hubungan antara prosedur dan operasionalisasi metode ilmiah dengan norma-norma moral dan profesional (Ja’far, 2016: 110).

Dilihat dari aspek etika akademik, nilai-niali luhur tasawuf dapat menjadi landasan etis seorang ilmuwan dalam pengembangan sains dan teknologi. Konsep al-maqamat dan al-ahwal dapat menjadi semacam etika profesi seorang saintis sebagai ilmuwan Muslim. Misalnya, seorang saintis Muslim sebgaimana ilmuwan klasik, harus menampilkan kehidupan sufistik seperti sikap zuhud, warak, sabar, tawakkal, cinta, fakir, dan rida dalam menjalankan kegiatan akademik maupun dalam kehidupan sosialnya itulah yang harus dimilki seorang saintis Muslim (Ja’far, 2016: 110).

Daftar Pustaka :
 Ja’far. 2016. Gerbang Tasawuf: Dimensi Teoritis Dan Praktis Ajaran Kaum Sufi. Medan: Perdana Publishing.


Integrasi Dalam Ranah Epistemologis

Istilah epistemologis  berasal dari bahasa Yunani, episteme yang bermakna pengetahuan, dan logosbermakna ilmu ataueksplanasi, sehingga epistemologis yaitu teori pengetahuan. Epistemologis sebagai caang filsafat yang membahas pengetahuan dan pembenaran dan kajian pokok epistemologis adalah makna pengetahuan, kemungkinan manusia meraih pengetahuan dan hal-hal yang dapat diketahui. Runes menjelaskan bahwa epistemologi adalah cabang filsafat yang menelusuri asal [sumber], struktur, metode, dan validitas ilmu pengetahuan. Kajian-kajian ilmu alam mengandalkan metode observasi dan eksperimen yang disebbut dalam epistemologi Islam sebagai metode tajribi, sedangkan kajian tasawuf mengandalkan metode ‘irfani yang biasa disebut metode tazkiyah al-nash.


Saintis Muslim meskipun lebih banyak mengedepankan metode tajribi dalam mengembangkan ilmu alam, tetap perlu mengambil metode tasawuf dalam menemukan ilmu dan kebenaran, dimana kaum sufi lebih mengutamakan metode tazkiyah al-nafs dengan melaksanakan berbagai ritual ibadah termasuk zikir, serta melakukan praktik riyadhah dan mujahadhah (Ja’far, 2016: 109).

Integrasi Dalam Ranah Ontologi

Istilah Ontologi berasal dari bahasa Yunani, ont yang bermakna keberadaan, dan logos yang bermakna teori, sedangkan dalam bahasa Latin disebut ontologi, sehingga ontologi bermakna teori keberadaan sebagaimana keberadaan tersebut. Ontologi dapat dimaknai sebagai ilmu tentang esensi segala sesuatu. Ontologi merupakan bagian dari metafisika yang merupakan bagian dari filsafat; membahas teori tentang keberadaan seperti makna keberadaan dam karakteristik esensial keberadaan. Dengan demikian ontologi adalah ilmu tentang teori keberadaan, dan istilah ontologi ditujukan kepada pembahasan tentang objek kajian ilmu (Ja’far, 2016: 105).
Para sufi awal memang lebih banyak memfokuskan kepada masalah kedekatan kepada Allah Swt. tetapi mereka meluaskan objek kajian tasawuf sampai kepada persoalan wujud, selain tasawuf juga mulai bersinggungan dengan filsafat sehingga mereka tidak saja membahas dan menyibak hakikat wujud-Nya, tetapi juga wujud alam dan manusia. Sejauh  ini, visi spiritual kaum sufi seperti Ibn ‘Arabi, Suhrawardi, dan Mulla Shadra, dan visi intelektual kaum filsuf rasional seperti al-Farabi, Ibn Sina dan Ibn Rusyd, mengenai dunia fisik kurang banyak mengilhami saintis Muslim modern dalam pengembangan ilmu-ilmu kealaman (Ja’far, 2016: 106).

Para filsuf Muslim dan sufi berpendapat bahwa ada hubungan erat antara alam dengan Allah Swt. Menurut Ibn ‘Arabi menyatakan alam diciptakan Allah Swt. melalui proses tajalli (penampakan diri)-Nya pada alam empiris yang majemuk. Saintis Muslim sebagai peneliti alam empirik harus menyadari bahwa alam merupakan ciptaan dan manifestasi Aallah Swt.; dan ajaran Islam  mengajarkan bahwa alam merpakan tanda-tanda keberadaan dan kekuasaan-Nya (Ja’far, 2016: 107).


Daftar Pustaka :
 Ja’far. 2016. Gerbang Tasawuf: Dimensi Teoritis Dan Praktis Ajaran Kaum Sufi. Medan: Perdana Publishing.

VIDEO CERAMAH TASAWUF

https://www.youtube.com/watch?v=wraFaM95wOk&t=1s

Integrasi Dalam Sejarah Islam

Integrasi Dalam Sejarah Islam
Dalam sejarah  intelektual Islam klasik, budaya integrasi keilmuan telah dikenal dan dikembangkan secara canggih. Center for Islamic Philosophical Studies and Information (CIPSI) pernah menyatakan 261 ilmuwan, teolog, dan saintis Muslim yang menguasai banyak bidang, baik ilmu-ilmu kewahyuan maupu ilmu-ilmu rasional dan empirik. Dalam sejarah Islam ditemukan seorang ahli astronomi, ahli biologi, ahli matematika, dan ahli arsitektur yang mumpuni dalam bidang ilmu-ilmu keislaman seperti tauhid, fikih, tafsir, hadis, dan tasawuf (Ja’far, 2016: 102).

Para filsuf dari mazhab Peripatetik merupakan pemikir Muslim yang berhasil mengintegrasikan filsafat Yunani dengan ajaran Islam yang bersumberkan kepada Alquran dan hadis. Tidak sebatas integrasi belaka, mereka malah mapu menguasai berbagai disiplin ilmu yang terdiri atas ilmu-ilmu rasional dan ilmu-ilmu kewahyuan, sehingga integrasi menjadi sangat mudah dilakukan. Al-Jahiz adalah ahli dalam bidang sastra Arab, biologi, zoologi sejarah, filsafat, psikologi, teologi, dan politik. Al-Kindi ahli dalam seluruh cabang filsafat seperti metafisika, etika, logika, psikologi, kedokteran, farmakologi, matematika, astrologi, optik, zoologi, dan meteorologi. Al- Razi ahli dalam bidang filsafat, kimia, matematika, musik, dan politik. Ibn Bajjah merupakan tokoh astronom, filsuf, musisi, dokter, fisikawan, psikolog, dan botanis. Ibn Thufail yaitu seorang ahli filsafat, kedokterann, dan hukum Islam. Al- Ghazali seorang tokoh teolog, filsuf, dan sufi. Umar Khayyam tokoh matematikawan, astronom, dan sufi. Ikhwan al-Shafa’ adalah kelompok filsuf yang menguasai filsafat, psikologi, biologi, dan fisika. Ibn al-Haitsam merupakan tokoh dalam bidang falak, matematika, geometri, pengobatan, dan filsafat. Al-Biruni yaitu tokoh matematikawan, astronom, fisikawan, filsuf, sejarawan, ahli farmasi, dan dokter. Ibn Rusyd yaitu pakar kedokteran, hukum Islam, matematika, fisika, dan puisi. Fakhr al- Din al-Razi sebagai ahli filsafat, tasawuf, kedokteran, tafsir, dan fikih. Secara keilmuan, mereka menguasai banyak disiplin ilmu, dan secara personal mereka berperan sebagai seorang saintis Muslim yang berpola hidup religius dan sufistik. Sedangkan kemampuan mereka menguasai ilmu-ilmu raisonal dan empirik adalah bahwa semua ilmu tersebut dikategorikan sebagai ilmufardh al-kifayah yang diwajibkan kepada sebagian Muslim. Integrasi ilmu dalam Islam bukan hal yang baru. Sebab, para ilmuwan Muslim klasik telah mengerjakan proyek keilmuwan tersebut sepanjang masa keemasan Islam (Ja’far, 2016: 103-105).

Daftar Pustaka :
 Ja’far. 2016. Gerbang Tasawuf: Dimensi Teoritis Dan Praktis Ajaran Kaum Sufi. Medan: Perdana Publishing.