EPISTEMOLOGI TASAWUF
1. Peran Hati Dalam Tasawuf
Dalam term sufisme makna al-qalbu (hati) lebih menunjuk kepada aspek ruhani, substansi halus, anasir bukan materi yang berfungsi mengenal segala sesuatu dan mampu merefleksikan sesuatu seperti cermin yang memantulkan sebuah gambar. Kemampuan qalb dalam merefleksikan suatu hakikat tergantung pada sifat qalb, sesuai pengaruh inderawi, syahwat, kemaksiatan, dan cinta. Sepanjang hati itu bersih dari kendala-kendala yang dapat menutupinya, maka hati dapat menangkap hakikat yang ada.
Menurut At-Tirmidzi, qalb (hati) adalah pusat dari semua perasaan, pengenalan dan emosi di dalam diri manusia. Semua perasaan, pengenalan dan emosi manusia akan kembali ke qalb (hati) dan dari qalb (hati) dikirim kembali ke seluruh tubuh. Qalb (hati) bersifat otomatik, dapat menyerap segala bentuk emosi yang ada, dan apabila terbetik di dalamnya suatu aliran perasaan, secara langsung akan dipancarkan ke seluruh tubuh. Dengan pandangan At-Tirmidzi ini, hati dapat diibaratkan seperti istana. Jika yang memerintah istana adalah raja yang baik (ruh), maka akan baiklah semua perilaku si pemilik hati. Sebaliknya, jika yang berkuasa di istana adalah raja jahat (nafsu), maka akan rusaklah semua perilaku si pemilik hati.
Imam Al-Ghazali mengungkapkan makna qalb dengan gambaran metaforik sebagai sumur yang digali di tanah. Sumur itu bisa diisi lewat saluran pipa dari sungai atau saluran irigasi. Tidak jarang dalam mengisi sumur dilakukan penggalian lebih dalam sampai didapati sumber air di dalam tanah. Jika digali lebih dalam, akan memancar air yang lebih jernih, lebih deras dan tidak ada habisnya. Tidak ubahnya sumur, ungkap Al-Ghazali, air di dalamnya itulah ilmu pengetahuan. Pancaindera ibarat saluran pipa atau saluran irigasi, mengisi qalb dengan ilmu pengetahuan seibarat saluran pipa atau saluran irigasi mengisi sumur dengan air dari sungai di muka bumi. Qalb diisi ilmu pengetahuan lewat pancaindera melalui proses membaca, mendengar, merasakan, mengamati, meneliti. Sementara ada cara lain mengisi air ke dalam sumur, dengan menutup saluran pipa atau saluran irigasi. Lalu menggali qalb lebih dalam lewat uzlah, khalwat, mujahadah, muraqabah, musyahadah sampai terangkat tutup yang menyelubungi, sehingga memancar dari dalam qalb ilmu pengetahuan yang lebih bersih dan abadi, sebagaimana firman Allah: “sebenarnya, Al-Qur’an itu adalah ayat-ayat yang nyata didalam dada orang-orang yng diberi ilmu. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat kami kecuali orang-orang yang zalim. (Q.S.Al-Ankabut:49). (Daradjat Zakiah dan Hasbi : 1983 : 95)
Ada beberapa hal yang menyebabkan gagal meraih ilmu (Ja'far :2016:37)
Imam Al-Ghazali mengungkapkan makna qalb dengan gambaran metaforik sebagai sumur yang digali di tanah. Sumur itu bisa diisi lewat saluran pipa dari sungai atau saluran irigasi. Tidak jarang dalam mengisi sumur dilakukan penggalian lebih dalam sampai didapati sumber air di dalam tanah. Jika digali lebih dalam, akan memancar air yang lebih jernih, lebih deras dan tidak ada habisnya. Tidak ubahnya sumur, ungkap Al-Ghazali, air di dalamnya itulah ilmu pengetahuan. Pancaindera ibarat saluran pipa atau saluran irigasi, mengisi qalb dengan ilmu pengetahuan seibarat saluran pipa atau saluran irigasi mengisi sumur dengan air dari sungai di muka bumi. Qalb diisi ilmu pengetahuan lewat pancaindera melalui proses membaca, mendengar, merasakan, mengamati, meneliti. Sementara ada cara lain mengisi air ke dalam sumur, dengan menutup saluran pipa atau saluran irigasi. Lalu menggali qalb lebih dalam lewat uzlah, khalwat, mujahadah, muraqabah, musyahadah sampai terangkat tutup yang menyelubungi, sehingga memancar dari dalam qalb ilmu pengetahuan yang lebih bersih dan abadi, sebagaimana firman Allah: “sebenarnya, Al-Qur’an itu adalah ayat-ayat yang nyata didalam dada orang-orang yng diberi ilmu. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat kami kecuali orang-orang yang zalim. (Q.S.Al-Ankabut:49). (Daradjat Zakiah dan Hasbi : 1983 : 95)
Ada beberapa hal yang menyebabkan gagal meraih ilmu (Ja'far :2016:37)
1. Kekurangan hati seperti anak- anak (balita)
2. kotornya hati karna selalu berbuat maksiat (mengikuti hawa nafsu)
3. selalu berbuat jahat, berfikir buruk (tidak mengikuti kebenaran dan mengarahkan pikiran
kepada hakikat ilahi)
4. berprasangka buruk
5. menyeleweng dari ajaran (ilmu yang salah)
Untuk mensucikan hati haruslah ia bebani dengan amal-amal ibadah, dzikir, tasbih, tahlil dan sebagainya. Sesuai dengan cara yang ditentukan oleh nash Al-Qur’an dan Hadis. Disamping ibadah yang merupakan inti hubungan manusia dengan Tuhan, hati juga dibebani dengan akhlak-akhlak yang terpuji dan dikosongkan dia dari perangai-perangai bejat. Aktivitas pensucian hati inilah yang disebut dengan “riyadhah” di dalam ilmu tasawuf.
2. Metode Tazkiyah al-Nafs
2. Metode Tazkiyah al-Nafs
Tazkiyah bermaksud pembersihan atau penyuburan. Dalam konteks ahli tasawuf, tazkiyah merujuk kepada bersih daripada sifat keji dalam diri dan kezaliman lahiriyah. Dalam erti kata yang lain tazkiyah al-nafs adalah melibatkan dua proses utama iaitu al-takhalli dan al-tahalli. Al-takhalli ialah membersihkan diri daripada sifat-sifat yang tercela kerana ianya adalah najis maknawi yang menghalang untuk sampai kepada hadrat Allah yang Quddus sebagaimana najis yang zahir kepada Allah. Manakala al-tahalli pula ialah menghias jiwa dengan sifat-sifat yang mulia sebagaimana yang dituntut oleh Islam. Menurut al-Tusi, al-tahalli ialah mengikut golongan sodiqin sama ada dari sudut perkataan mahupun dalam amalan zahir.(Kalil Ahmad : 2007 :45)
Ini adalah penting kerana manusia itu hakikatnya bukannya semata-mata keadaan fizikalnya tetapi yang membezakannya dengan kehidupan lain ialah kekuatan jiwanya. Tubuh badan yang jiwanya cerah hasil dari limpahan cahaya hidayah yang diberikan oleh Allah selepas melalui tazkiyah barulah dinamakan manusia sejati. Hidupnya benar-benar sebagai manusia, tidak lagi dikuasai oleh sifat alam rendah dan kebinatangan.
Ibn al-Qayyim al- Jauziah (w.1350) Menyebutkan ilmu yang di raih oleh kaum sufi sebagai ilm laduniyah yakni ilmu yang di isyaratkan depda ilmu yang di peroleh seorang hamba tanpa menggunakan sarana, tetapi berdasarkan ilham dari Allah, dan di perkenalkan Allah kepada hambanya. Ilmu ladunni merupakan buah dari ibadah, serta kepatuhan dan kebersamaan dari Allah, dan di cari dari kepatuhan kepada Rasul-nya. Ilmu ladunni terdisi atas 2 macam dari sisi Allah dan dari sisi setan. kaum sufi meraih ilmu dari sisi Allah, sedangkan dukun meraih ilmu dari sisi setan. (Ja'far : 2016 : 43)
KESIMPULAN
- Menurut At-Tirmidzi, qalb (hati) adalah pusat dari semua perasaan, pengenalan dan emosi di dalam diri manusia. Semua perasaan, pengenalan dan emosi manusia akan kembali ke qalb (hati) dan dari qalb (hati) dikirim kembali ke seluruh tubuh. Qalb (hati) bersifat otomatik, dapat menyerap segala bentuk emosi yang ada, dan apabila terbetik di dalamnya suatu aliran perasaan, secara langsung akan dipancarkan ke seluruh tubuh.
- Ada beberapa hal yang menyebabkan gagal meraih ilmu (Ja'far :2016:37)
1. Kekurangan hati seperti anak- anak (balita)
2. kotornya hati karna selalu berbuat maksiat (mengikuti hawa nafsu)
3. selalu berbuat jahat, berfikir buruk (tidak mengikuti kebenaran dan mengarahkan
pikiran kepada hakikat ilahi)
4. berprasangka buruk
5. menyeleweng dari ajaran (ilmu yang salah)
- tazkiyah al-nafs adalah melibatkan dua proses utama iaitu al-takhalli dan al-tahalli. Al-takhalli ialah membersihkan diri daripada sifat-sifat yang tercela kerana ianya adalah najis maknawi yang menghalang untuk sampai kepada hadrat Allah yang Quddus sebagaimana najis yang zahir kepada Allah. Manakala al-tahalli pula ialah menghias jiwa dengan sifat-sifat yang mulia sebagaimana yang dituntut oleh Islam.
- Ibn al-Qayyim al- Jauziah (w.1350) Menyebutkan ilmu yang di raih oleh kaum sufi sebagai ilm laduniyah yakni ilmu yang di isyaratkan depda ilmu yang di peroleh seorang hamba tanpa menggunakan sarana, tetapi berdasarkan ilham dari Allah, dan di perkenalkan Allah kepada hambanya.(Ja'far : 2016 : 43 )
RELEVANSI DENGAN BIDANG ILMU KOMPUTER
Mahasiswa yang memiliki pengetahuan tentang IT harus memiliki akhlak yang baik mensucikan hati ilmu pengetahuan akan mudah kita dapatkan dengan ridha Allah Swt, melakukan kewajiban dan tidak menyeleweng dari ajaran baik itu moral, kesesuaian dengan fitrah,tawazun (Keseimbangan), baik dalam bidang agama maupun IT, harus adanya pegangan teguh yang bisa menjadikan kita seseorang yang intelektif dalam bidang apapun untuk mencapai masa depan.
Mahasiswa yang memiliki pengetahuan tentang IT harus memiliki akhlak yang baik mensucikan hati ilmu pengetahuan akan mudah kita dapatkan dengan ridha Allah Swt, melakukan kewajiban dan tidak menyeleweng dari ajaran baik itu moral, kesesuaian dengan fitrah,tawazun (Keseimbangan), baik dalam bidang agama maupun IT, harus adanya pegangan teguh yang bisa menjadikan kita seseorang yang intelektif dalam bidang apapun untuk mencapai masa depan.
Tema : Peran Hati Dalam Tasawuf, Metode Tazkiyah al-Nafs
Buku : Gerbang Tasawuf
Identitas Buku : Ja'far, Gerbang Tasawuf, Dimensi Teoritis dan Praktis Ajaran Kaum Sufi
(Medan : Perdana Publishing, 2016)
Buku : Pengantar Ilmu Tasawuf
Identitas Buku : Daradjat Zakiah dan Hasbi, Pengantar Ilmu Tasawuf
( Medan : Naspar Djaja, 1983)
Buku : Merengkuh Bahagia Al-Quran, Tasawuf dan Psikologi
Identitas Buku : Khalil Ahmad, Merengkuh Bahagia Al-Quran, Tasawuf dan Psikologi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar