BIOGRAFI AS-SUHRAWARDI
As-Suhrawardi, atau yang nama aslinya
beliau ialah Abuh Futuh Yahya bin Habsyi bin Amrak. Beliau dilahirkan di daerah
Suhrawandi, Zanda, di Persia Utara pada tahun 549 H / 1129 M. Suhrawardi lahir
di lingkungan keluarga yang taat beribadah , seperti layaknya masa kecil para
sufi / ulama lainnya, sejak diusia yang belia beliau telah mempelajari
dasar-dasar agama dilingkungan keluarganya. Beliau mempelajari dasar-dasar ilmu
agama seperti: Al-qur’an, Fiqih. Beliau juga memiliki sejumlah gelar yaitu: Syeikh Al-Isyraq, al-Hakim; asy-Syahid; The Martyr, dan al-Maqtul. Akan tetapi beliau lebih dikenal Al-maqtul.
Gelar beliau
tersebut disebutkan agar membedakan dari dua nama sufi yang serupa. Suhrawardi; pertama,
‘Abd al-Qohir Abu Najib as-Suhrawardi (w. 563 H./ 1168 M) ia adalah murid dari Ahmad Ghazali (adik imam Ghazali). merupakan pemuka mistisisme yang menulis
kitab ‘Adab al-Muridin
(moralitas santri); kedua, adalah
Abu Hafs ‘Umar Shihab ad-Din as-Suhrawardi al-Baghdadi (1145-1234). Dia adalah
keponakan dan sekaligus murid dari Abu Najib Suhrawardi. Dia adalah pengarang
kitrab ‘Awarif al-Ma’arif.
Pada masa mudanya,
beliau telah berkelana keberbagai daerah, seperti: mengunjungi beberapa tempat
yang bertujuan untuk mencari ilmu pengetahuan agama serta mencari pembimbing
dalam rangka memperluas wawasan ilmu agama beliau. Beliau berkelana keberbagai
daerah seperti: Syria, Anatolia, Persia, dan Aleppo. Menurut saya, kebiasaan
perjalanan jauh (musafir) telah menjadi kebiasaan orang-orang terdahulu
terlebih lagi mereka yang para cendekiawan muslim seperti As-Suhrawardi ini.
Sebenarnya, wilayah
yang pertama kali dikunjungi oleh beliau ialah wilayah dibagian Maragha, sebuah
kota kecil yang terletak di Azerbaijan. Disini beliau belajar beberapa cabang
ilmu agama, seperti: ilmu hukum, falsafah sampai teologi. Beliau berguru dengan
Majd Ad-din Al-jili tentang ilmu teologi. As-Suhrawardi memang dikenal begitu
giat mencari ilmu agama dengan mengunjungi berbagai daerah dan memiliki
beberapa guru yang telah mendidik beliau dengan baik.
Setelah belajar di
Maragha, beliau melanjutkan perjalanan ke daerah Ishafan, didaerah Iran Tengah.
Disini pula beliau belajar ilmu agama yang lainnya yang diasuh oleh Zhahir
Ad-din Al-Qari yaitu belajar tentang ilmu logika. Singkat cerita, As-Suhrawardi
melanjutkan perjalanan dari Iran Tengah menuju Anatolia Tenggara dan pada saat
itu beliau disambut oleh pangeran Bani Saljuk. Setelah mendapatkan ilmu
formalnya, beliau langsung menuju kedaerah selanjutnya yaitu ke daerah Persia.
Persia begitu dikenal dengan tempat para gerakan sufi dan tokoh –tokoh sufi. Di
Persia beliau tertarik belajar ilmu mitisisme dan doktrin tasawuf. Dengan demikian, beliau pun senantiasa menerapkan ilmu yang telah ia
peroleh dikehidupan sehari-hari.
Pada
akhirnya, beliau mengakhiri perjalanannya ke daerah Syria. Dari Damaskus ia
kemudian menuju Aleppo. Disinilah beliau pada akhirnya sampai menemukan
sejumlah ilmu yang selama ini telah ia cari dari berbagai daerah yang ia telah
jelajahi. Tampak begitu jelas ketekunan beliau dalam mencari ilmu agama sampai
mengunjungi banyak tempat yang jauh dari tempat beliau lahir.
Menurut
pengamat sufi Mehdi Amin Razali, Suhrawrdi hidup di suatu zaman ketika muncul
kebutuhan untuk menyatukan kembali ilmu pengetahuan Islam dengan memadukan
berbagai mazhab. Ditengah perdebatan intelektual itulah muncul pemikiran
Suhrawrdi tentang Isyraq, yang antara lain meyakini bahwa wacana filosofis
merupakan bagian dari perjalanan spritual seseorang.
Suhrawardi juga
termasuk sufi besar yang produktif membukukan pikiran-pikirannya.
Karya-karyanya yang dianggap monumental, antara lain, Hikmah al-Isyraq .
Al-Muqawwamat dan Al-Mutaribat, salah satu kitab yang banyak diperbincangkan
ialah
Hikamh al-Isyraq . Memuat berbagai pandangannya perihal filsafat Isyraq atau Iluminatif. Karya-karyanya yang lain, rata-rata dalam sebuah kitab yang tipis, Hikayat An-Nur, Alwah wa Imadiyah. Partaw Nama, Fil I’tikad al-Hukama, Al-Lahamat, Bustan al-Qulub – sebagian besar di tulis dalam bahasa arab. Sementara karya-karyanya dalam bahasa Persia banyak dipuji sebagai karya sastra yang indah. Karya yang lain, diantaranya, Aqil Surkh, Awazi Par-I Jabarail, Al-Qissah Al-Ghurbah al-Gharbiyah, Lugati Muran, Risalah fil Hallah al-Tufuliyyah, Ruzi Ba Jamaah Sufiyan, Safir Simurg
dan Risalah fi Mikra.
Hikamh al-Isyraq . Memuat berbagai pandangannya perihal filsafat Isyraq atau Iluminatif. Karya-karyanya yang lain, rata-rata dalam sebuah kitab yang tipis, Hikayat An-Nur, Alwah wa Imadiyah. Partaw Nama, Fil I’tikad al-Hukama, Al-Lahamat, Bustan al-Qulub – sebagian besar di tulis dalam bahasa arab. Sementara karya-karyanya dalam bahasa Persia banyak dipuji sebagai karya sastra yang indah. Karya yang lain, diantaranya, Aqil Surkh, Awazi Par-I Jabarail, Al-Qissah Al-Ghurbah al-Gharbiyah, Lugati Muran, Risalah fil Hallah al-Tufuliyyah, Ruzi Ba Jamaah Sufiyan, Safir Simurg
dan Risalah fi Mikra.
Banyak
pandangan As-Suhrawardi yang di ikuti para sufi, misalnya ucapannya yang
terkenal, “Semua yang menyenangkan anda, seperti hak milik, perabotan dan
kenikmtan duniawi, dan hal-hal yang serupa itu, lemaprkanlah. Jika resep ini
anda ikuti, penglihatan anda akan tercerahkan.” Pandangan lain yang juga
terkenal, “Ketika mata batin terbuka, mata lahir harus di tutup, bibir harus di
kunci, dan lima indra lahir harus dibungkam. Indra batin hendaknya mulai
berfungsi, sehingga jika ia mencapai sesuatu, melakukakannya dengan jasad
batin, jika mendengar, dia mendengar dengan telinga batin.
Salah satu
peristiwa yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan Suhrawardi ialah saat
kematiannya. Ia meninggal di tiang gantungan dalam sebuah upacara pengadilan
yang digelar oleh Sultan Salahuddin Al-Ayyubi, dari dinasti Bani Saljuk –
gara-gara ajarannya dianggap sesat.Di tengah beliau sebagai seorang ulama
tasawuf dan cendikiawan, pendapat-pendapatnya memang sering memancing
kontroversi. Seperti pandangan-pandangan Al-Hallaj maupun Junaid Al-Baghdadi,
pendapat Suhrawardi sering dianggap menyimpang sehingga memancing konflik yang
berkepanjangan (Syafiah Yanti,
Sebelum di
adili, ia dipanggil oleh pangeran Zahir bin Salahuddin Al-Ayyubi untuk mempertanggung
jawabkan ajarannya dalam forum debat terbuka yang dihadiri Teolog dan Fukaha.
Dalam debat itu, ia berhasil mempertahankan argumentasinya, sehingga pangeran
Zahir pun memaafkannya, bahkan belakangan bersahabat dengannya, tapi akibatnya
hal itu memancing rasa iri dan dengki.
Tapi, justru
karena hukuman itu nama Suhrawardi semakin melejit, masyarakat menggelarinya
dengan sebutan Al-Maqtul (tokoh yang terbunuh). Ia memang telah dibunuh,
jasadnya telah dibuang, tapi pikiran-pikirannya yang cemerlang tetap hidup
hingga kini, bahkan sepanjang zaman. Dan Insha Allah beliau termasuk digolongan
orang-orang yang beriman karena semasa hidup beliau sebelum wafat beilau
senantiasa taat kepada ajaran agama dan giat menuntut ilmu hingga jauh-jauh
kedaerah yang belum pernah beliau kunjungi sebelumnya.
Adapun dari
kisah / biografi beliau ini kita dapat mengambil hikmah dan teladan yang dapat
dicontoh perjuangan sufi ini ketika menuntut ilmu yang dilakukannya begitu
giat, serta jangan mudah menyerah dari segala sesuatu yang menghadang dan
bahkan terkadang nyawa pun bisa jadi taruhannya. Kita bisa melihat akhirnya
seorang sufi pun meskipun ia sekalipun membawakan atau menuntut ilmu yang Insha
Allah benar, tetap saja ada cobaan yang dihadapkan sehingga nyawa sekalipun
bisa jadi taruhanya. Mungkin dari kisah terbunuhnya beliau inilah karena
dipancung, maka ia diberi gelar seperti yang telah saya ketik diatas, yaitu: Al
– Maqtul ( tokoh yang terbunuh ). Terbunuh dalam motif kisah ini karena ada
unsure politik didalamnya sehingga hal ini dapat terjadi. Sehingga di tiang gantungan dalam sebuah upacara
pengadilan yang digelar oleh Sultan Salahuddin Al-Ayyubi, dari dinasti Bani
Saljuk – gara-gara ajarannya dianggap sesat. Disitulah jalan takdir beliau
ketika menemukan ajalnya dan pada akhirnya beliau meninggal karena dipancung.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar