Jumat, 06 Januari 2017

BIOGRAFI AS-SUHRAWARDI

BIOGRAFI AS-SUHRAWARDI
As-Suhrawardi, atau yang nama aslinya beliau ialah Abuh Futuh Yahya bin Habsyi bin Amrak. Beliau dilahirkan di daerah Suhrawandi, Zanda, di Persia Utara pada tahun 549 H / 1129 M. Suhrawardi lahir di lingkungan keluarga yang taat beribadah , seperti layaknya masa kecil para sufi / ulama lainnya, sejak diusia yang belia beliau telah mempelajari dasar-dasar agama dilingkungan keluarganya. Beliau mempelajari dasar-dasar ilmu agama seperti: Al-qur’an, Fiqih. Beliau juga memiliki sejumlah gelar yaitu: Syeikh Al-Isyraq, al-Hakim; asy-Syahid; The Martyr, dan al-Maqtul. Akan tetapi beliau lebih dikenal Al-maqtul.
Gelar beliau tersebut disebutkan agar membedakan dari dua nama sufi yang serupa. Suhrawardi; pertama, ‘Abd al-Qohir Abu Najib as-Suhrawardi (w. 563 H./ 1168 M) ia adalah murid dari Ahmad Ghazali (adik imam Ghazali).  merupakan pemuka mistisisme yang menulis kitab ‘Adab al-Muridin (moralitas santri); kedua, adalah Abu Hafs ‘Umar Shihab ad-Din as-Suhrawardi al-Baghdadi (1145-1234). Dia adalah keponakan dan sekaligus murid dari Abu Najib Suhrawardi. Dia adalah pengarang kitrab ‘Awarif al-Ma’arif.
Pada masa mudanya, beliau telah berkelana keberbagai daerah, seperti: mengunjungi beberapa tempat yang bertujuan untuk mencari ilmu pengetahuan agama serta mencari pembimbing dalam rangka memperluas wawasan ilmu agama beliau. Beliau berkelana keberbagai daerah seperti: Syria, Anatolia, Persia, dan Aleppo. Menurut saya, kebiasaan perjalanan jauh (musafir) telah menjadi kebiasaan orang-orang terdahulu terlebih lagi mereka yang para cendekiawan muslim seperti As-Suhrawardi ini.
Sebenarnya, wilayah yang pertama kali dikunjungi oleh beliau ialah wilayah dibagian Maragha, sebuah kota kecil yang terletak di Azerbaijan. Disini beliau belajar beberapa cabang ilmu agama, seperti: ilmu hukum, falsafah sampai teologi. Beliau berguru dengan Majd Ad-din Al-jili tentang ilmu teologi. As-Suhrawardi memang dikenal begitu giat mencari ilmu agama dengan mengunjungi berbagai daerah dan memiliki beberapa guru yang telah mendidik beliau dengan baik.
Setelah belajar di Maragha, beliau melanjutkan perjalanan ke daerah Ishafan, didaerah Iran Tengah. Disini pula beliau belajar ilmu agama yang lainnya yang diasuh oleh Zhahir Ad-din Al-Qari yaitu belajar tentang ilmu logika. Singkat cerita, As-Suhrawardi melanjutkan perjalanan dari Iran Tengah menuju Anatolia Tenggara dan pada saat itu beliau disambut oleh pangeran Bani Saljuk. Setelah mendapatkan ilmu formalnya, beliau langsung menuju kedaerah selanjutnya yaitu ke daerah Persia. Persia begitu dikenal dengan tempat para gerakan sufi dan tokoh –tokoh sufi. Di Persia beliau tertarik belajar ilmu mitisisme dan doktrin tasawuf. Dengan demikian, beliau pun senantiasa menerapkan ilmu yang telah ia peroleh dikehidupan sehari-hari.
Pada akhirnya, beliau mengakhiri perjalanannya ke daerah Syria. Dari Damaskus ia kemudian menuju Aleppo. Disinilah beliau pada akhirnya sampai menemukan sejumlah ilmu yang selama ini telah ia cari dari berbagai daerah yang ia telah jelajahi. Tampak begitu jelas ketekunan beliau dalam mencari ilmu agama sampai mengunjungi banyak tempat yang jauh dari tempat beliau lahir.
Menurut pengamat sufi Mehdi Amin Razali, Suhrawrdi hidup di suatu zaman ketika muncul kebutuhan untuk menyatukan kembali ilmu pengetahuan Islam dengan memadukan berbagai mazhab. Ditengah perdebatan intelektual itulah muncul pemikiran Suhrawrdi tentang Isyraq, yang antara lain meyakini bahwa wacana filosofis merupakan bagian dari perjalanan spritual seseorang.
Suhrawardi juga termasuk sufi besar yang produktif membukukan pikiran-pikirannya. Karya-karyanya yang dianggap monumental, antara lain, Hikmah al-Isyraq . Al-Muqawwamat dan Al-Mutaribat, salah satu kitab yang banyak diperbincangkan ialah
Hikamh al-Isyraq . Memuat berbagai pandangannya perihal filsafat Isyraq atau Iluminatif. Karya-karyanya yang lain, rata-rata dalam sebuah kitab yang tipis, Hikayat An-Nur, Alwah wa Imadiyah. Partaw Nama, Fil I’tikad al-Hukama, Al-Lahamat, Bustan al-Qulub – sebagian besar di tulis dalam bahasa arab. Sementara karya-karyanya dalam bahasa Persia banyak dipuji sebagai karya sastra yang indah. Karya yang lain, diantaranya, Aqil Surkh, Awazi Par-I Jabarail, Al-Qissah Al-Ghurbah al-Gharbiyah, Lugati Muran, Risalah fil Hallah al-Tufuliyyah, Ruzi Ba Jamaah Sufiyan, Safir Simurg
dan Risalah fi Mikra.
Banyak pandangan As-Suhrawardi yang di ikuti para sufi, misalnya ucapannya yang terkenal, “Semua yang menyenangkan anda, seperti hak milik, perabotan dan kenikmtan duniawi, dan hal-hal yang serupa itu, lemaprkanlah. Jika resep ini anda ikuti, penglihatan anda akan tercerahkan.” Pandangan lain yang juga terkenal, “Ketika mata batin terbuka, mata lahir harus di tutup, bibir harus di kunci, dan lima indra lahir harus dibungkam. Indra batin hendaknya mulai berfungsi, sehingga jika ia mencapai sesuatu, melakukakannya dengan jasad batin, jika mendengar, dia mendengar dengan telinga batin.
Salah satu peristiwa yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan Suhrawardi ialah saat kematiannya. Ia meninggal di tiang gantungan dalam sebuah upacara pengadilan yang digelar oleh Sultan Salahuddin Al-Ayyubi, dari dinasti Bani Saljuk – gara-gara ajarannya dianggap sesat.Di tengah beliau sebagai seorang ulama tasawuf dan cendikiawan, pendapat-pendapatnya memang sering memancing kontroversi. Seperti pandangan-pandangan Al-Hallaj maupun Junaid Al-Baghdadi, pendapat Suhrawardi sering dianggap menyimpang sehingga memancing konflik yang berkepanjangan (Syafiah Yanti,
Sebelum di adili, ia dipanggil oleh pangeran Zahir bin Salahuddin Al-Ayyubi untuk mempertanggung jawabkan ajarannya dalam forum debat terbuka yang dihadiri Teolog dan Fukaha. Dalam debat itu, ia berhasil mempertahankan argumentasinya, sehingga pangeran Zahir pun memaafkannya, bahkan belakangan bersahabat dengannya, tapi akibatnya hal itu memancing rasa iri dan dengki.
Tapi, justru karena hukuman itu nama Suhrawardi semakin melejit, masyarakat menggelarinya dengan sebutan Al-Maqtul (tokoh yang terbunuh). Ia memang telah dibunuh, jasadnya telah dibuang, tapi pikiran-pikirannya yang cemerlang tetap hidup hingga kini, bahkan sepanjang zaman. Dan Insha Allah beliau termasuk digolongan orang-orang yang beriman karena semasa hidup beliau sebelum wafat beilau senantiasa taat kepada ajaran agama dan giat menuntut ilmu hingga jauh-jauh kedaerah yang belum pernah beliau kunjungi sebelumnya.

Adapun dari kisah / biografi beliau ini kita dapat mengambil hikmah dan teladan yang dapat dicontoh perjuangan sufi ini ketika menuntut ilmu yang dilakukannya begitu giat, serta jangan mudah menyerah dari segala sesuatu yang menghadang dan bahkan terkadang nyawa pun bisa jadi taruhannya. Kita bisa melihat akhirnya seorang sufi pun meskipun ia sekalipun membawakan atau menuntut ilmu yang Insha Allah benar, tetap saja ada cobaan yang dihadapkan sehingga nyawa sekalipun bisa jadi taruhanya. Mungkin dari kisah terbunuhnya beliau inilah karena dipancung, maka ia diberi gelar seperti yang telah saya ketik diatas, yaitu: Al – Maqtul ( tokoh yang terbunuh ). Terbunuh dalam motif kisah ini karena ada unsure politik didalamnya sehingga hal ini dapat terjadi. Sehingga  di tiang gantungan dalam sebuah upacara pengadilan yang digelar oleh Sultan Salahuddin Al-Ayyubi, dari dinasti Bani Saljuk – gara-gara ajarannya dianggap sesat. Disitulah jalan takdir beliau ketika menemukan ajalnya dan pada akhirnya beliau meninggal karena dipancung.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar