Nama :Muhammad Syaukani Nasution
Fakultas : Sains Dan Teknologi
Jurusan/ Semester : Ilmu Komputer/ Semester III
Mata Kuliah : Akhlak Tasawuf
Dosen Pengampu : Bpk. Dr. Ja'far, M.A.
A. Defenisi Tasawuf
Dalam kitab Kasyf al-Mahjǔb, al-Hujwirî telah menjelaskan asal usul kata tasawuf
1. Al-shǔf (الصوف), yaitu wol. Disebabkan karena kaum sufi biasa menggunakan pakaian yang terbuat dari bulu domba yang kasar sebagai lambang akan kerendahan hati mereka, juga menghindari sifat sombong, serta meninggalkan usaha-usaha yang bersifat duniawi. Orang yang berpakaian bulu domba disebut“Mutashawwif”, sedangkan perilakunya disebut “Tasawuf”.
2. Al- shaf (الصف), yaitu barisan pertama. Karena kaum sufi mempunyai iman yang kuat , jiwa bersih, ikhlas, dan senantiasa memilih barisan yang paling depan dalam sholat berjamaahatau dalam perang suci.
3. Al-shuffah (الصفة), yaitu serambi tempat duduk. Yakni serambi masjid nabawi di Madinah yang disediakan untuk orang-orang yang belum mempunyai tempat tinggal dan kalangan Muhajirin di masa Rasulullah SAW. Mereka biasa dipanggil ahli shuffah (pemilik serambi) karena di serambi mesji itulah mereka bernaung.
4. Al- shafǎ (الصفاء), yaitu kesucian. Karena para sufi telah menyucikan akhlak mereka dari noda-noda bawaan, dan karena kemurnian hati dan kebersihan tindakan mereka.
Menurut ‘Abd al-Qǎdir al-Jailǎnî yang cukup dikenal sebagai pendiri tarekat Qadariyah menyatakan bahwa seseorang dikatakan sebagai sufi karena tiga alasan.
1. Terjadinya proses penjernihan terhadap hati mereka berkat cahaya makrifat.
2. Ia dinisbahkan kepada ashḫab al-shuffah, yakni para sahabat yang meninggalkan segala sesuatu karena cinta kepada Allah dan Rasul-Nya.
3. Ia memakai shǔf (Pakaian dari bulu), di mana untuk sufi :
· Tingkat pemula : mengenakan pakaian dari bulu biri-biri
· Tingkat pertengahan : dari bulu kambing
· Tingkat puncak : dari bulu mir’izza (bulu halus kambing)
Al- Jailani menambahkan bahwa kata tashawwuf (تصو ف) terdiri atas 4 huruf, yakni:
1. ت : Taubah
2. ص : Shafǎ
3. و : Wilayah(Kewalian)
4. ف : fanǎ fî Allǎh
Berdasarkan pendapat sejumlah sufi, dapat dipahami bahwa tasawuf merupakan disiplin ilmu yang berkaitan dengan penyucian jiwa manusia dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah Swt.
Pembahasan tasawuf akan sangat berkaitan dengan upaya menumbuhkan akhlak mulia, sikap konsisten untuk mengendalikan diri dari jeratan nafsu kebinatangan dan kehidupan duniawi, dan jalan terbaik untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt.
Dari aspek epistemologi, tasawuf berupaya untuk memurnikan jiwa dan hati sebagai syarat utama untuk meraih kedekatan diri kepada Allah Swt.
B. Tasawuf dalam Hierarki Ilmu-Ilmu Islam
Dalam tradisi intelektual Islam, para ualama telah membuat klasifikasi ilmu berdasarkan sudut pandang Islam. Di antara mereka ialah:
Ø Ibnu Kaldun membagi ilmu menjadi dua jenis yaitu:
1. Ilmu-ilmu hikmah dan filsafat (‘ulǔm al-naqliyyah al-falsafiyyah) yang di peroleh dengan akal manusia.
2. Ilmu yang diajarkan dan ditransformasikan (‘ulǔm al-naqliyyah al-wadhi’iyah) yang bersumber kepada syariat islam (Alquran dan Hadis
Ø Al-Ghazali membagi ilmu berdasarkan cara perolehan ilmu, disebutkan bahwa ilmu terdiri atas :
1. Ilmu yang dihadirkan (‘ilm al-hudhuri/presential)
2. Ilmu yang dicapai (‘ilm al-hushuli/attained)
Sedangkan tasawuf dikategorikan sebagai ‘ilm al-hudhuri.
Ø Ibn al-Qayyim al-Jauziyah membagi dalam tiga derajat:
1. ‘ilm jaliyun (didasari observasi, eksperimen, dan silogisme)
2. ‘ilm khafiyun (ilmu makrifat)
3. ‘ilm laduniyun (didasari ilham dari Allah)
Dan tasawuf dikelompokkan kepada ‘ilm khafiyun dan ‘ilm laduniyun
Ø Syed Muhammad Naquib al-Attas membagi ilmu menjadi dua jenis:
1. Ilmu pemberian Allah yang disebut ilmu-ilmu agama
2. Ilmu capaian yang disebut ilmu-ilmu rasional, intelektual dan filosofis.
Sedangkan tasawuf dikategorikan sebagai metafisika Islam yang merupakan bagian dari ilmu-ilmu agama.
Dari aspek pembahasan, tasawuf membicarakan empat pokok persoalan
1. Pembahasan tentang mujahadah, zauq, instropeksi diri, dan tingkatan-tingkatan spiritual
2. Penyingkapan spiritual dan hakikat-hakikat alam gaib
3. Keramat wali
4. Istilah-istilah kaum sufi yang diungkap pasca ‘mabuk’ spiritual
Menurut al- Taftazani, dari abad ketiga sampai abad keempat hijriah, aliran tasawuf terbagi menjadi dua yaitu:
1. Tasawuf Akhlaki/Amali (berkembang di daerah Sunni), yaitu aliran yang memagari pengikutnya dengan Aquran dan Hadis, serta mengaitkan ajaran mereka, terutama keadaan dan tingkatan rohani mereka, dengan kedua sumber ajaran Islam tersebut. Diantara sufi yang termasuk dalam kelompok ini adalah Abu Hamid al-Ghazali.
2. Tasawuf Falsafi (berkembangh di dunia syiah), yaitu aliran yang cenderung kepada ungkapan-ungkapan ganjil (syathahat), memadukan antara visi mistis dan visi rasional dan banyak menggunakan terminologi filosofis, bahkan dipengaruhi banyak ajaran filsafat.
C. Tujuan Tasawuf
C. Tujuan Tasawuf
Tujuan Tasawuf tidak dapat dilepaskan dari tujuan hidup manusia sebagaimana dijelaskan dalam ajaran Islam. Alquran menegskan bahwa manusia diciptakan dengan suatu tujuan tertentu. Dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim,disebutkan hadis mengenai al-islam, al-iman, dan al-ihsan, yang menjelaskan bahwa ketiga istilah ini membentuk suatu hierarki beragama. Seorang Muslim tidak saja dituntut untuk menjalankan al-islam danal-iman, tetapi juga merealisasikan al-ihsan sebagai hierarki paling tinggi. Jadi Alquran dan hadis menghendaki umat islam dapat memantapkan ketauhidan dan ibadah dalam kerangka al-ihsan dan mengimplementasikan tugas sebagai khalifah-Nya di muka demi kebaikan dunia maupun akhirat kelak.
Para sufi telah merumuskan tujuan dari tasawuf. Sekadar pemetaan,:
Ø Ibn Khaldun menjelaskan bahwa puncak perjalanan spiritual para penempuh jalan tasawuf setelah melewati beragam tingkatan spiritual (al-maqamat) adalah kemantapan tauhid dan makrifat.
Ø Ruwaim bin Ahmad menyatakan bahwa kewajiban pertama dari Allah kepada hambanya adalah makrifah. Sebagaimana disebutkan dalam QS al-Zariyat/51:56 bahwa, jin dan manusia diciptakan untuk li ya’budun yang diartikan Ibn Abbas sebagaili ya’rifun (makrifat kepada Allah).
Ø Junaid al-Baghdadi mengatakan bahwa makrifah merupakan awal dari kebutuhan hamba dari hikmah.
Penyataan sufi-sufi tersebut mendukung penegasan bahwa tujuan bertasawuf adalah bermakrifat kepada Allah.
Dua sumber ajaran Islam, Alquran dan Hadis, memberikan sinyal kuat bahwa manusia berpotensi untuk mendekatkan diri kepada Allah., bertauhid dan bermakrifat kepada_Nya. Allah Swt. Berfirman dalam QS al-Baqarah /2:186 yaitu:
Dalam QS Qaf/50:16, Allah Swt., berfirman:
![]() |
| Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya, |
Sebagaimana pernah diungkap, pernyataan kaum sufi menegaskan bahwa tasawuf menghendaki pelajar sufu mampu mendekatkan diri kepada Allah, dan memiliki akhlak mulia.
Ø Junaid menjelaskan bahwa tasawuf adalah “hendaklah kamu bersama Allah saja, tidak punya hubungan dengan yang lain.”
Ø Dalf al-Syibli berkata “Seorang sufi itu terputus dari makhluk dan bersambung dengan Allah.”
Ø Zun al-Nun al-Mishri mengungkapkan bahwa tasawuf adalah “Orang-orang yang mengutamakan Allah dari yang lain, sehingga Allah lebih mengutamakan mereka daripada yang lain.”
Ø Muhammad al-Kattani menjelaskan bahwa “tasawuf adalah akhlak, maka barang siapa yang bertambah baik akhlaknya, maka akan bertambah mantap tasawufnya (semakin bersih jiwanya).
Kata-kata sebagian sufi tersebut menunjukkan bahwa tasawuf berupaya mengantarkan penekunnya untuk selalu bersama Allah dalam berbagai keadaan, dan memantulkan akhlak mulia dalam diri pengkajinya sebagai wujud dari kemantapan tauhidnya.
Mayoritas sufi dari kalangan Sunni menegaskan bahwa al-Maqamtertinggi yang dapat dicapai oleh seorang sufi hanyalah tingkatan rida(al-ridha)
Sejumlah sufi dari aliran tasawuf falsafi memiliki intrepetasi berbeda dari mazhab tasawuf yang berhaluan Sunni.
Ø Abu Yazid al-Busthami mengenalkan teori al-ittihad
Ø Zun al-Nun al-Mishri mengenalkan paham al-ma’rifah
Ø Al-Hallaj dengan teori al-hulul
Ø Ibn ‘Arabi mengusung wahdah al-wujud
Ø Suhrawardi al-Maqtil mempopulerkan fana’ akbar dan fana dar fana
Ø Mulla Shadra mengenalkan teori empat perjalanan (al-Hikmah al-Muta’aliyah fi al-Asfar al-Arba’ah) dimana perjalanan keempat sebagai perjalanan spiritual tertinggi yang disebut al-safar bi al-haq fi al-khalq. Pendapat mereka tentang tauhid dapat dilihat dari teori mereka masing-masing.
Daftar Pustaka
Ja’far. 2016. Gerbang Tasawuf (Dimensi Teoritis dan Praktis Ajaran Kaum Sufi). Medan: Perdana Publishing.
Bangun, Ahmad, dkk. 2013. Akhlak Tasawuf Pengenalan dan Pengaplikasiannya. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Nata, Abuddin. 2013. Akhlak Tasawuf dan Karakter Mulia. Jakarta: Raja Grafindo Persada.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar