Integrasi Dalam Sejarah Islam
Dalam sejarah intelektual Islam klasik, budaya integrasi keilmuan telah dikenal dan dikembangkan secara canggih. Center for Islamic Philosophical Studies and Information (CIPSI) pernah menyatakan 261 ilmuwan, teolog, dan saintis Muslim yang menguasai banyak bidang, baik ilmu-ilmu kewahyuan maupu ilmu-ilmu rasional dan empirik. Dalam sejarah Islam ditemukan seorang ahli astronomi, ahli biologi, ahli matematika, dan ahli arsitektur yang mumpuni dalam bidang ilmu-ilmu keislaman seperti tauhid, fikih, tafsir, hadis, dan tasawuf (Ja’far, 2016: 102).
Para filsuf dari mazhab Peripatetik merupakan pemikir Muslim yang berhasil mengintegrasikan filsafat Yunani dengan ajaran Islam yang bersumberkan kepada Alquran dan hadis. Tidak sebatas integrasi belaka, mereka malah mapu menguasai berbagai disiplin ilmu yang terdiri atas ilmu-ilmu rasional dan ilmu-ilmu kewahyuan, sehingga integrasi menjadi sangat mudah dilakukan. Al-Jahiz adalah ahli dalam bidang sastra Arab, biologi, zoologi sejarah, filsafat, psikologi, teologi, dan politik. Al-Kindi ahli dalam seluruh cabang filsafat seperti metafisika, etika, logika, psikologi, kedokteran, farmakologi, matematika, astrologi, optik, zoologi, dan meteorologi. Al- Razi ahli dalam bidang filsafat, kimia, matematika, musik, dan politik. Ibn Bajjah merupakan tokoh astronom, filsuf, musisi, dokter, fisikawan, psikolog, dan botanis. Ibn Thufail yaitu seorang ahli filsafat, kedokterann, dan hukum Islam. Al- Ghazali seorang tokoh teolog, filsuf, dan sufi. Umar Khayyam tokoh matematikawan, astronom, dan sufi. Ikhwan al-Shafa’ adalah kelompok filsuf yang menguasai filsafat, psikologi, biologi, dan fisika. Ibn al-Haitsam merupakan tokoh dalam bidang falak, matematika, geometri, pengobatan, dan filsafat. Al-Biruni yaitu tokoh matematikawan, astronom, fisikawan, filsuf, sejarawan, ahli farmasi, dan dokter. Ibn Rusyd yaitu pakar kedokteran, hukum Islam, matematika, fisika, dan puisi. Fakhr al- Din al-Razi sebagai ahli filsafat, tasawuf, kedokteran, tafsir, dan fikih. Secara keilmuan, mereka menguasai banyak disiplin ilmu, dan secara personal mereka berperan sebagai seorang saintis Muslim yang berpola hidup religius dan sufistik. Sedangkan kemampuan mereka menguasai ilmu-ilmu raisonal dan empirik adalah bahwa semua ilmu tersebut dikategorikan sebagai ilmufardh al-kifayah yang diwajibkan kepada sebagian Muslim. Integrasi ilmu dalam Islam bukan hal yang baru. Sebab, para ilmuwan Muslim klasik telah mengerjakan proyek keilmuwan tersebut sepanjang masa keemasan Islam (Ja’far, 2016: 103-105).
Daftar Pustaka :
Ja’far. 2016. Gerbang Tasawuf: Dimensi Teoritis Dan Praktis Ajaran Kaum Sufi. Medan: Perdana Publishing.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar