A. Mengenal Ahwal
Sebagian sufi pernah menyebut beberapa contoh al-ahwal adalah al-muraqabah, al-kauf, al-raja’,dan al-syawq. Berbeda dari al-maqamat yang diraih dari hasil usaha salik secara mandiri dengan melakukan ibadah, mujahadah dan riyadhah, al-ahwal tidak diraih secara mandiri dengan melakukanibada, mujahadah dan riyadhah, al-ahwal tidak diraih secara mandiri, melainkan anugerah dari Allah Swt. dan keadaannya tidak kekal dalam diri seorang salik (Ja’far, 2016: 85).
B. Al-Muraqabah
Ajaran muraqabah merupakan salah satu bentuk dari al-ahwal. Kata al-muraqabah memang tidak digunakan Alquran, meskipun kata yang seakar dengannya dapat ditemukan antara lain raqiba, dan semua kata yang seakar dengan al-muraqabah disebut sebanyak 24 kali. Menurut al-Qusyairi,muraqabah didasari oleh Q.S. al-Ahzab/33:52, serta hadis Nabi Muhammad Saw. Mengenai al-iman,al-islam dan al-ihsan, di mana makna al-ihsan (fa’illam takun tarahu fa innahu yaraka) merupakan isyarat dari muraqabah yang merupakan ilmu hamba untuk melihat Allah Swt., dan hati meyakini bahwa Allah Swt. Maha Pengawas, mengetahui keadaannya, melihat pernuatannya, dan mendengar ucapannya. Dengan demikian, seorang hamba memiliki keadaan al-muraqabah, yakni keyakinan seorang salik bahwa dirinya selalu diawasi oleh llah Swt. dalam berbagai aktivitasnya, sehingga ia hanya akan melakukan amal kebaikan dalam hidupnya, dan membenci dan tidak akan ingin melakukan perbuatan maksiat dan dosa (Ja’far, 2016: 85-86).
C. Takut (al-kauf)
Hakikat takut (al-kauf) dijelaskan secara berulang kali dalam Alquran, dan dapat ditemukan dalam hadis dan atsar. Kata takut disebut Alquran baik dalam bentuk al-khauf maupun dalam bentuk al-khasyiya, meskipun maknanya tidak hanya berarti takut Allah. Dalam bentuk al-khauf, disebut Alquran sebanyak 124 kali, terutama dalam bentuk khaufun, yukhafuna, dan akhafun, sedangkan dalam bentukyakhsya, khasyiya dengan berbagai bentuknya disebut 48 kali (Ja’far, 2016: 86-87).
Menurut al-Qusyairi, “makna takut kepada Allah Swt. adalah takut kepada siksaan-Nya, baik di dunia maupun akhirat.” Abu al-Qasim al-Hakim mengatakan, “khauf memiliki dua bentuk: rahbah yakni orang yang berlindung kepada Allah Swt; dan khassyah yakni orang yang ditarik kendali ilmu dan melaksanakan kebenaran.” Berdasarkan pendapat mereka, al-khauf berarti seorang hamba hanya takut kepada Allah., dan tidak takut kepada selain-Nya (Ja’far, 2016: 87-88).
D. Harap (al-raja’)
Kata Harap (al-raja’) tidak ditemukan dalam Alquran, meskipun bentuk lain dari akar yang sama dapat disebut sebanyak 28 kali, terutama dalam kata tarjuna, yarju, dan yarjuna yang maknanya antara lain harap atau berharap. Menurut al-Qusyairi, raja’ adalah “ketergantungan hati pada sesuatu yang dicintai yang akan terjadi di masa yang akan datang.” Jadi, konsep al-raja’ bermakna harapan seorang sufi kepada Allah Swt., berharap semua amal, tobat, dan ampunannya diterima Allah Swt (Ja’far, 2016: 89).
E. Rindu (al-syawq)
Di antara yang termasuk al-hal adalah rindu (al-syawq) kepada Allah Swt. Kaum sufi menilai penting konsep rindu kepada Allah Swt. sebagai Kekasih sejati manusia, dan menjadi salah satu tanda kecintaan manusia kepada-Nya. Menurut al-Ghazali, orang yang memungkiri hakikat cinta kepada Allah Swt., maka pasti ia akan memungkiri hakikat rindu. Apabila, seorang hamba mencintai Allah Swt., maka ia akan merindukan untuk bertemu dan melihat-Nya (Ja’far, 2016: 89).
Al-Qusyairi mengatakan bahwa “rindu adalah keguncangan hati untuk menemui yang dicintai (Allah Swt). Cinta sangat bergantung kepada rindu. Jadi, rindu merupakan keinginan kuat hati untuk menemui dan melihat Kekasih sejatinya, yakni Allah Swt (Ja’far, 2016: 90).
Daftar Pustaka :
Ja’far. 2016. Gerbang Tasawuf: Dimensi Teoritis Dan Praktis Ajaran Kaum Sufi. Medan: Perdana Publishing.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar