Istilah Ontologi berasal dari bahasa Yunani, ont yang bermakna keberadaan, dan logos yang bermakna teori, sedangkan dalam bahasa Latin disebut ontologi, sehingga ontologi bermakna teori keberadaan sebagaimana keberadaan tersebut. Ontologi dapat dimaknai sebagai ilmu tentang esensi segala sesuatu. Ontologi merupakan bagian dari metafisika yang merupakan bagian dari filsafat; membahas teori tentang keberadaan seperti makna keberadaan dam karakteristik esensial keberadaan. Dengan demikian ontologi adalah ilmu tentang teori keberadaan, dan istilah ontologi ditujukan kepada pembahasan tentang objek kajian ilmu (Ja’far, 2016: 105).
Para sufi awal memang lebih banyak memfokuskan kepada masalah kedekatan kepada Allah Swt. tetapi mereka meluaskan objek kajian tasawuf sampai kepada persoalan wujud, selain tasawuf juga mulai bersinggungan dengan filsafat sehingga mereka tidak saja membahas dan menyibak hakikat wujud-Nya, tetapi juga wujud alam dan manusia. Sejauh ini, visi spiritual kaum sufi seperti Ibn ‘Arabi, Suhrawardi, dan Mulla Shadra, dan visi intelektual kaum filsuf rasional seperti al-Farabi, Ibn Sina dan Ibn Rusyd, mengenai dunia fisik kurang banyak mengilhami saintis Muslim modern dalam pengembangan ilmu-ilmu kealaman (Ja’far, 2016: 106).
Para filsuf Muslim dan sufi berpendapat bahwa ada hubungan erat antara alam dengan Allah Swt. Menurut Ibn ‘Arabi menyatakan alam diciptakan Allah Swt. melalui proses tajalli (penampakan diri)-Nya pada alam empiris yang majemuk. Saintis Muslim sebagai peneliti alam empirik harus menyadari bahwa alam merupakan ciptaan dan manifestasi Aallah Swt.; dan ajaran Islam mengajarkan bahwa alam merpakan tanda-tanda keberadaan dan kekuasaan-Nya (Ja’far, 2016: 107).
Daftar Pustaka :
Ja’far. 2016. Gerbang Tasawuf: Dimensi Teoritis Dan Praktis Ajaran Kaum Sufi. Medan: Perdana Publishing.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar